Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 5

Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 5

 Aopok.com - Dua hari kemudian, aku pergi sejak pagi ke rumah temanku. Ibuku tinggal sendirian di rumah, adikku masih pergi liburan. Waktu aku pulang agak siang, aku lagi-lagi mendapati pintu rumahku tertutup, tapi aku lihat ada sandal laki-laki di luar rumah. Mungkin Ibuku lagi nih, atau ayahku sudah pulang. Akhirnya aku putuskan untuk mengintip dari sela-sela kaca ruang tamu.

Kulihat ibuku tengah ngobrol dengan seorang laki-laki, ku kenal dia karyawan ayahku yang tinggal di kampung menjaga ternak kami. Namanya Pak Karmin, orangnya tinggi besar dan hitam seperti orang negro. Pak Karmin mau pamit pulang. Dia berdiri dan hendak melewati ibuku yang duduk di sofa. Ibuku memegang tangannya. Pak Karmin menoleh heran.
“Ada apa Bu?” tanyanya.
“Kamu mau langsung pulang Min?”
“Iya, Bu. Ternak nanti nggak ada yang ngasih makan.”
“Istri dan anak kamu kan ada.”
“Tapi itu tugas saya Bu.”
“Kamu jangan cuma bisa merawat sapi-sapi itu, Min.”
“Cuman itu yang saya mampu, Bu.”

Ibuku masih memegang tangan Karmin dan dia masih berdiri tepat di hadapan Ibuku yang duduk.
“Kamu sepertinya bisa yang lain, Min.”
“Maksud Ibu apa?” tanyanya lugu.
“Kamu bisa merawat saya sebentar.”
“Merawat gimana bu?” tanyanya makin bingung.
Ibuku tak menjawab, tapi langsung tangannya beraloh ke selangkangan Pak Karmin. Pak Karmin terkejut dan sedikit mundur.

“Nggak usah takut, Min. sini, kamu rawat Ibu dulu.”
“Jangan bu, nanti Bapak tahu.”
“Bapak di luar kota, Min, nggak ada di rumah ini.”
“Anak Ibu?”
“semua sedang pergi. Ayo sini maju.”
Karmin seperti dicocok hidungnya maju ke arah Ibuku yang langsung menyambut dengan kemabli menggerayangi selangkangan Pak Karmin yang Masih berdiri.
“Udah lama aku pengen ini-mu, Min.” kata Ibuku sambil menyentuh kontol Pak Karmin yang tampaknya mulai menegang, terlihat dari celana yang dipakainya menggelembung di sekitar selangkangan.

Pak Karmin diam saja berdiri di depan Ibuku yang terbakar birahi. lalu pelan Ibuku menarik ke bawah celana Training yang dipakai Pak Karmin hingga kontolnya muncrat keluar. Ternyata Pak Karmin nggak pakai CD, memang orang di kampung jarang yang pakai CD. Ibuku langsung terbelalak melihat penis yang begitu panjang dan besar. Aku juga sedikit kaget melihat penis sebesar itu. Akbar dan Pak Sharif kalah. Ibuku langsung mengjilati kepala penis itu pelan seperti makan es krim. Pak Karmin menggelinjang kegelian, mungkin belum pernah kontolnya di hisap istrinya. Kepala penis Pak Karmin jadi sasaran empuk hisapan Ibuku yang mulai memasukkan penis Pak Karmin ke mulutnya. Pak Karmin mendesis.

Tangannya memegang kepala ibuku dan meremas rambutnya. Ibuku berdiri dihadapan Pak Karmin, meraih tangannya dan meletakkan di dada Ibuku. Pak Karmin mulai aktif dan melepas baju daster yang dipakai ibuku. Melepaskan ikatan di pundak hingga jatuh ke bawah dan nampaklah dihadapannya Ibuku Cuma memakai CD dan Bra berwarna putih. Tangan ibuku masih berada di penis Pak Karmin. Lalu ibuku membuka kaos yang dipakai Pak Karmin hingga terlihat dadanya yang bidang dan hitam. Ibuku terlihat semakin bernafsu. Lalau melepaskan training yang dipakai Pak Karmin hingga dia telanjang bulat. Pak Karmin menunduk dan mencumbui tetek Ibuku yang masih terbalut Bra. Ibuku mengocok kontol Pak Karmin. Mereka berpagutan mesra, suara cipokan bibir mereka terdengar.
“Mmhh..”

Tangan Pak Karmin meraba punggung Ibuku dan melepaskan kansing Branya. Lalu dia meremas payudara Ibuku pelan, menunduk dan mengecupnya. Lidahnya menjilati puting tetek Ibuku yang muali mengerang dan menggelinjang. Tangannya terus mengelus kontol. Pak Karmin makin liar, mencumbu terus payudara ibuku, menggigit dan menjilat.
Ibuku mendorong tubuh Pak Karmin duduk di sofa. Pak Karmin mengangkangkan kakinya, ibuku berlutu dihadapannya dan mulai menjilati kontol Pak Karmin yang tegak berdiri, hitam dan menantang. Ibuku menjilati dari bagian buah peler, lalu menuju ke atas, ke arah kepala penis, disana dia memasukkan kepala kontol ke mulutnya dan memainkan dengan lidah di dalam mulut. Pak Karmin menggelinjang hebat. Lanjut baca!


Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 4

Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 4

 Tradingan.com - Dua hari kemudian, ibuku pulang sendiri, ternyata ayahku langsung pergi ke Medan untuk bisnis lagi. Ririn udah jarang ke rumah kami sejak ibuku pulang, hanya sesekali untuk bersih-bersih rumah. Suatu siang, aku iseng pergi main ke pinggiran sungai yang rimbun kayak hutan kecil. Di sekelilingnya ada ladang penduduk. Waktu aku melewati salah satu pondok di sebuah ladang, aku mendengar dua orang bercakap-cakap. Aku seperti mengenal suaranya, seperti suara ibuku. Aku lihat lebih dekat dan ternyata benar, ibuku tengah bercakap-cakap dengan Pak Sarif, pemilik ladang sayuran itu. Hanya berdua, istri dan anaknya entah kemana, biasanya mereka selalu membantu.

Kulihat mereka bercerita dengan tatapan lain dari biasa orang bercakap-cakap. Tapi perasaan janggal itu aku abaikan dan pergi ke sungai untuk mandi. Aku mandi di sebuah ceruk. Telanjang. Selesai mandi, aku mau pulang dan sengaja lewat jalan ladang Pak Sarif supaya aku bisa tau apa yang dilakukan ibuku disana. Ladang Pak Sarif, adalah ladang sayuran yang disekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon rindang dan menjadikan ladang itu seperti tempat tertutup dari lingkungan luar. Pondok di ladang itu ada di pinggir dekat rimbunan pohon pisang.

Waktu aku lewat, aku nggak lagi menemukan ibuku dan Pak Sarif disana. Aku coba melongok ke dalam pondok, dan ternyata memang udah nggak ada. Aku mau beranjak pergi waktu ku dengar suara desahan dan gesekan daun di pinggir pondok yang ditumbuhi pohon pisang yang rindang. Aku pelan-pelan memutari pondok dan mengintip ke arah itu. Ternyata kudapati ibuku tengah bercinta dengan Pak Sarif. Kulihat Pak Sarif tengah mencumbu ibuku. Payudaranya sudah lepas dar Bra dan dadanya dikulum Pak Sarif. Mereka menggelar tikar disana dan tempatnya memang tersembunyi.
ibuku menggelinjang pelan waktu Pak Sarif terus mencumbu payudara dan lehernya. Posisi mereka saling berhadapan duduk diatas tikar. Tangan Pak Sarif sibuk bergerilya di payudara dan selangkangan ibuku.

Setelah puas, gantian ibuku yang ambil kendali, dia membuka baju yang dipakai Pak Sarif, hingga menampakkan dadanya yang bidang karena berkerja sebagai petani dan berbulu tebal. Pak Sarif kuakui memang ganteng, dan 5 tahun lebih muda dari ibuku. Pak Sarif berlutut di depan ibuku yang mengelus-elus dadanya yang bidang. Lalu menjilati putingnya pelan. Pak Sarif merem melek menikmati cumbuan ibuku. Tangan ibuku mulai bergerilya di sekitar selangkangan Pak Sarif yang cuma memakai kain sarung, sehingga ibuku bebas bisa meraih kontolnya yang sudah menegang. ibuku memegang kepala Pak Sarif dan langsung mengulum bibirnya dengan ganas. Pak Sarif membalas tak kalah ganas, mereka saling berkuluman dan saling meraba, saling bertelanjang dada. Ibuku asyik menggesek-gesekkan payudaranya ke dada berbulu Pak Sarif yang juga asyik menikmati kekenyalan payudara ibuku di dadanya. Tangannya sibuk merogoh selangkangan ibuku.

ibuku merebahkan dirinya dan membiarkan Pak Sarif menelanjanginya dengan melepaskan daster yang dipakainya dari tubuh ibuku. CD ibuku yang berwarna putih sudah terlihat basah dan acak-acakan. Pak Sarif melepas kain sarungnya dan menyisakan CD yang juga berwarna putih dengan kontol yang kepalanya menyeruak keluar berwarna hitam kecoklatan dan ujungnya mengkilap berair. Lalu Pak Sarif rebah disebelah ibuku sambil meraih payudara dan mengulum yang sebelahnya. Tangannya bergerilnya dari payudara ke perut dan berakhir di vaginanya yang masih terbalut celana dalam. Tangan dan jari-jari Pak Sarif masuk ke CD ibuku dan menari-nari didalamnya membuat ibuku mengerang dan menggelinjang hebat. Erangannya terdengar pelan tertahan.

ibuku sepertinya tidak tahan lagi dan membalikkan posisi. Dia gantian mencumbu dada Pak Sarif dan terus turun ke bawah menuju selangkangannya. ibuku meraih kepala penis Pak Sarif yang mencut keluar dari CD. Ganas, ia menarik CD itu keluar dari kedua kaki Pak Sarif. Pelan dia menjilati penis Pak Sarif yang berurat coklat kehitaman itu. Pak Sarif mengerang pelan. Pantatnya ikut menggelinjang dan mencoba menusuk-nusuk dalam mulut ibuku. Ibuku naik ke tubuh Pak Sarif yang terbaring dan mencium dadanya yang bidang penuh berbulu lebat, mencupang puting dan sekitar dadanya, terus menciumi di leher dan berakhir di bibir, mereka asyik berpagutan hangat. Tangan Pak Sarif meremas-remas payudara ibuku yang menggantung.

Pelan ibuku menempelkan payudaranya ke dada Pak Sarif, lalu mulai memijatnya pelan-pelan. ibuku memberikan pijatan payudara di tubuh Pak Sarif yang terus mengerang dan menggelinjang sambil meremas-remas pantat dan punggung ibuku.
ibuku kembali naik ke atas dan mengarahnya payudaranya ke wajah Pak Sarif yang langsung menyambutnya dan mengulum putingnya pelan, ibuku menggelinjang sambil tangannya menumpu pada tikar. Tangan Pak Sarif mengelus-elus vagina ibuku yang merangkak dihadapannya sambil terus menulum dan menghisap payudaranya. Baca selengkapnya!


Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 3

Cerita Seks Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 3

 Topoin.com - Ibuku turun dari kursi, sementara ayahku mengangkangakn kedua kakinya, lalu Ibuku mulai menjilati penis ayahku yang masih menjulang. Lidah ibuku kulihat menjilati buah peler ayahku dan menghisap-hisapnya, tangan kanannya meraba-raba puting ayahku yang mengerang erang dengan mata terpejam. Pelan ibuku terus menjilati kepala penis ayahku, lalu memasukkannya ke mulut pelan, dihisap lalu dikocok-kocok dengan mulutnya. Ayahku meracau tak karuan dan mendesis-desis.

Cumbuan Ibuku kini pindah ke perut, menjilati disana dan naik ke puting ayahku. Lidah Ibuku memainkan puting ayahku pelan, dijilat-jilat dan sesekali digigit. Lalu ibuku mencumbu leher ayahku yang mendongakkan kepalanya di kursi. Meninggalkan cupangan dan jilatan disana, naik ke kuping. Lidah ibuku menari-nari disana. Ayahku tak tahan, dai meraih mulut ibuku dan mereka saling berkuluman lagi. Tubuh ibuku kini kembali berada diatas tubuh ayahku tapi tanpa ada penetrasi, mereka hanya berciuman dan saling mengulum bibir.

Lalu ayahku mengendong tubuh ibuku dan membawanya ke kamar mandi sambil terus berciuman. Telanjang. Setelah mereka masuk, aku mencoba mengintip dari lubang kunci, tapi nggak kelihatan dan aku Cuma mendengar suara air diguyur, lalu desahan-desahan.

***

Beberapa hari kemudian, Ayah dan Ibuku pergi ke luar kota, ada saudara yang menikah. Aku tinggal berdua dengan adikku. Ibuku menyuruh seorang tetangga untuk memasak. Anaknya kira-kira berumur 19 tahun, baru lulus SMU tapi nggak bisa melanjutkan kuliah karena keluarga nggak mampu. Namanya Ririn.

Hari pertama, pagi-pagi dia sudah datang untuk membersihkan rumah dan memasak sarapan. Aku tidak terlalu perduli, aku melakukan aktifitas seperti biasa. Adikku masih liburan.

Karena aku bangun kepagian untuk buka pintu untuk Ririn, setelah mandi dan sarapan aku tidur lagi di kamarku. Sekitar jam 10 pagi aku terbangun lagi dan berencana untuk mandi lagi. Tapi waktu melewati kamar Dedi, adikku, aku mendengar suara desahan, seperti orang sedang ngentot. Aku merapatkan kupingku ke lubang kunci dan dapat mendengar dengan jelas desahan dan eranagn itu benar dari dalam. Aku cepat beranjak ke samping rumah tempat jendela kamar Dedi berharap bisa melihat kejadian di dalam. Aku kaget?mati waktu melihat Dedi sedang ngentotin Ririn. Aku melihatnya dari jendela yang ternyata memang tidak dikunci oleh Dedi. Ternyata adikku nggak kalah sama Ibunya.

Kulihat Dedi tengah mengenjot kontolnya di memek Ririn yang mengangangkang di atas tempat tidur sementara Dedi diatasanya mengocok dengan ganas. Desahan mereka sampai terdengar diluar. Untuk kawasan rumaku halamannya luas dan ada tembok tinggi mengelilingi jadi nggak kedengaran.

Aku betul-betul nggak nyangka kalau Ririn ternyata mau melakukan itu, karena dia terlihat malu-malu dan sopan sama aku. Dan Dedi juga ternyata sudah fasih dengan kegiatan itu. Sebelum mereka selesai aku bernajak pergi dari sana. Onani ke kamar mandi.

***

Malamnya Dedi pergi sama teman-temannya karena malam minggu. Aku yang nungguin rumah. Ririn masih belum pulang dan sedang mencuci piring di dapur. Aku sesekali mencuri pandang dan mengintip dia. Jujur aja, aku juga jadi kepingin ngerasain gimana rasanya ngentot dan Ririn bisa kujadikan objek. Langsung aku mengunci pintu rumah, lalu beranjak ke dapur. Masih kulihat Ririn mencuci piring membelakangiku. Aku masih ragu-ragu untuk memulai.

Tapi aku memberanikan diri mendekai Ririn. Kupeluk dia dari belakang. Dia kaget.

“Bang..?dia bilang pelan tapi tidak coba menepis pelukanku.
“Aku tahu apa yang kamu lakukan sama Dedi,?bisikku mengancam “jadi jangan menolak.?Lanjutku. Dia diam saja.

Aku melepaskan tangannya dari sabun cuci dan mencucinya di keran sambil memeluknya dari belakang. Tengkuknya pelan-pelan kuciumi, dia tak berani menolak dan menurut apa yang kulakukan. Kubalikkan badannya dan langsung bibirnya kusergap, kuhisap-hisap, dia malah mulai membalas dan sepertinya menikmati ciumanku. Tanganku mulai bergerilya di payudaranya yang masih terbungkus baju kaos putih. Lalu menyusup pelam dari arah pusar dan menyentuh payudaranya yang terbalut bra. Ciumanku beralih ke leher dan sekitarnya, kujilati dan kugigit pelan. Dia menggelinjang. Lanjut baca!


Cerita Sex Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 2

Cerita Sex Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 2

  Iklans.com - Besok sorenya, lagi-lagi aku mandi di sungai bareng Akbar.

“Tadi malam kemana lo?” pancingku.
“Biasalah, tugas.” Jawabnya.
“Tugas apa?”
“Nyari uang-lah. Ada Ibu yang gatal pengen ku entotin, kan lumayan uangnya.”
“Memangnya berapa Ibu sih yang biasa kau entotin?”
“Cuma satu kok.”
“Dimana ngentotnya?”
“Kau ini mau tau aja. Rahasialah.”
“Ya, bagi-bagi pengalaman kenapa sih.”
“Kecuali yang ini, bahaya.”
“Kapan kau ajak aku ketemu sama temanmu yang bias dipake?”
“Malam minggu ini aja, gimana?”
“Malam ini aja.”
“Nggak bisa, aku masih ada tugas.”
“Tugas lagi, sama Ibu itu?”
“Iya, nafsunya gede lo, makanya suka nggak puas, tadi malam aja aku nggak sempat orgasme kok, mau ngelanjutin malas, nggak bawa pelicin sih, aku mau ngentotin pantatnya, kalo memeknya udah blong, nggak enak. Makanya begitu dia kelar, aku selesai juga.”
“Nanti malam dimana?”
“Ya ampun, ya rahasialah, nanti kau ngintip pula.”
“Ya udah.”
Lalu kami mandi berdua, telanjang, kuperhatikan kontolnnya yang sering diisap Ibuku.

***

Malamnya aku udah bersiap-siap dengan kamera. Jam delapan aku udah masuk kamar. Jam sembilan malam kudengar suara telepon, mungkin itu dari Akbar pikirku. Setengah jam kemudian kudengar lagi pintu belakang dibuka. Aku pikir mereka mau melanjutkan yang tadi malam di pondok. 5 menit setelah ibuku keluar, aku langusng keluar dengan menenteng kamera.

Tapi di pondok tidak kudapati suara-suara maupun cahaya lilin. Aku ke belakang pondok dan melihat nyala senter di kejauhan. Aku tahu itu jalan menuju ke sungai yang melewati sawah dan kebun. Aku langsung bearnjak mengikuti cahaya itu. Untung malam purnama, jadi aku masih bisa melihat jalan. Aku semakin dekat dengan cahaya itu, kulihat Ibuku jalan sendiri, mungkin Akbar menunggu di suatu tempat. Tapi dimana, aku juga masih bingung. Mungkin di salah satu pondok di sawah. Semakin dekat ke sungai setelah melewati sebuah kebun membuat aku semakin bingung. Mau apa mereka di sungai?

Jalan itu terus ku lalui, itu jalan ke sungai tempat aku dan Akbar mandi sore. Lalu kulihat Ibuku turun terus ke sungai, aku mengambil jalan lain dan mengintip dari atas. Kulihat ada nyala rokok di bawah, lalu nyala senter. Ibuku dan Akbar. Ternyata di rumput di pinggir sungai sudah ada sebuah tikar dan Akbar tengah duduk disana. Ibuku langsung menghampiri. Aku beranjak lagi sedikit ke timur supaya dapat melihat dengan jelas. Jarakku dengan mereka Cuma sekitar 6 meter. Untung suara air meredam suara derak kayu yang kuinjak.
Akbar memakai celana pendek, sedangkan Ibuku seperti biasa memakai daster.

Bulan diatas membuat segalanya terlihat jelas dan terang. Mereka mengobrol pelan.
“Jangan-jangan anakmu tahu tentang hubungan kita.” Kata Akbar.
“Kok bisa?” Tanya Ibuku.
“Yah siapa tahu aja, dia kan sudah dewasa, mungkin logikannya bisa sampai kesana, apalagi waktu malam di pondok itu aku mendengar langakh-langkah orang.”
“Kalau dia tahu, kenapa dia nggak bilang?”
“Mungkin dia takut, atau malu.”
“Udah ah, nggak usah bahas itu.” Kata Ibuku manja sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Akbar. Akbar mengelus rambut Ibuku sambil membuang rokoknya.

Lalu dia membaringkan tubuh Ibuku di tikar, dia terbaring disampingnya. Lalu Akbar mulai mengulum pelan bibir Ibuku yang membalasnya pelan. Tangan akbar bergerilya di payudara dan vagina Ibuku. Dasternya ditarik hingga terlihat CDnya. Tangan Akbar merogoh dan mengelus-elus vagina Ibuku yang masih dibalut CD. Cumbuan akbar turun ke leher dan sekitar kuping dalam Ibuku yang melenguh pelan. Rmabut Akbar diremas-remas.
Cumbuan Akbar turun ke payudara Ibuku yang dilapisi daster, terus turun ke bawah, tangannya menyingkap daster Ibuku dari bawah ke atasa, ibuku sengaja mengangkat badannya hingga Akbar dengan mudah membuka seluruh daster lepas dari Tubuhnya.

Kini Ibuku Cuma memakai CD dan Bra saja. Akbar membuka baju kaos dan celananya sekaligus menyisakan CD yang penisnya seolah sudah mau mneyeruak keluar. Lalu dia mencumbu kaki Ibuku pelan, menciuminya kearah atas dan bagian dalam Paha Ibuku. Semakin kedalam membuat Ibuku menggelinjang pelan. Melenguh pelan. Kaki Ibuku satu diangkat akbar dan diciuminya sampai ke pangkal paha. Sesekali digigitnya paha Ibuku. Lalu Akbar menggigit CD ibuku dan menariknya hingga terbuka lepas dari kaki. Baca selengkapnya!


Cerita Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 1

Cerita Ibu Selingkuh dengan 6 Pria Brutal 1

 Tradingan.com - Sudah lebih satu tahun aku kuliah di Yogya sejak tahun 2026 lalu dan liburan semester kemarin aku berkesempatan pulang ke daerah asalku di sebuah kota kecil di Sumatra.

Di rumah hanya tinggal aku, kedua orang tua dan adikku yang masih sekolah si SMU. setiap hari ayahku sibuk usaha. kadang-kadang pergi seminggu dan cuma beberapa hari dirumah, itupun cuma sebentar saja.

Aku tidak pernah menyangka kalau ibuku termasuk perempuan yang libidonya tinggi, hingga dengan seringnya ayahku pergi, jelas nafsunya tak tersalurkan. Aku tahu, ayahku juga punya pacar di kota-kota yang sering disinggahinya, karena aku pernah pergi dengannya beberapa hari dan malamnya aku tahu dikamar sebelahku (yang diinapi ayahku) terdengar suara-suara erangan. Paginya aku masuk ke kamar ayahku dan mendapati mereka tengah mandi sambil bercinta.

Kembali ke masalah Ibuku, sejak seminggu aku tiba dirumah, ayahku sedang pergi ke luar kota. Malamnya aku pergi dengan beberapa temanku, kebetulan malam itu malam minggu. Adikku juga pergi ngapelin pacarnya. Ibuku tinggal sendirian di Rumah.

Belum jam 9 aku memutuskan untuk pulang ke Rumah untuk menemani ibuku. Perlu ku jelaskan rumahku ada disebuah desa yang penduduknya tidak terlalu banyak. Dekat rumahku ada sebuah sungai dan dikelilingi sawah. Rumahku dikelilingi tembok setinggi 2 meter di samping dan belakang.

Setibanya di rumah, aku mendapati pintu depan dikunci. Aku lalu berjalan ke belakang, tapi begitu tiba disamping kamar ibuku kudengar suara-suara orang bercakap-cakap pelan. Ada suara laki-laki. Kupikir ayahku sudah datang. Tapi kudengar suara itu suara laki-laki yang ku kenal dan bukan ayahku. Aku berjalan mendekati jendela kaca lebar yang tertutup gorden putih. Lampu didalam remang-remang. kucoba mencari celah gorden untuk melihat kedalam dan kutemukan di tengah pertemuan antara dua gorden.

Aku lalu jongkok sambil mengintip ke dalam. kulihat ibuku sedang ngobrol mesra dengan laki-laki muda yang sudah sangat ku kenal karena dia temanku. Namanya Akbar. Dia anak tetanggaku yang putus sekolah karena orang tuannya miskin. Aku nggak tahu bagaimana dia bisa menjalin affair dengan Ibuku, tapi yang ku tahu kontolnya besar dan cokelat. Aku pernah beberapakali mandi telanjang di sungai waktu SMU sama dia dan beberapa teman sambil onani dengan sabun mandi. Kami berteman akrab dengan orang lain dan pernah mengurutkan ukuran kontol yang paling besar. Akbar, aku, Iwan dan Adi.

Kulihat mereka berhenti bercakap-cakapa sambil pelan Akbar mencium bibir Ibuku (usia ibuku sekitar 40 tahun). Ibuku membalas pelan dan merek terlihat romantis sekali. Tangan Akbar meremas payudara Ibuku yang masih terbalut daster merah yang bertali. Tangan Ibuku mengelus-elus kontol Akbar yang terbalut celana jeans. Tosisi mereka terbaring berhadap-hadapan. Akbar dan Ibuku saling menjulurkan lidah dan menghisap lidah dan bibir masIng-masing sambil tangan terus bergerilya. Tangan Akbar sudah masuk ke daster Ibuku yang talinya sudah merosot dan menampakkan payudaranya yang dibalut BH. Lalu Akbar pelan menurunkan ciumannya ke leher Ibuku sambil tangannya melepas kait BH. Dengan mulut dia melepas kait BH dari punggu Ibuku hingga menampakkan payudaranya yang mulai kendor.

Ibuku terduduk dengan bersandar di ujung ranjang. Akbar membuka baju kaosnya dan duduk disamping kanan Ibuku sambil terus menciumi payudara dan meremas vaginanya. Baju ibuku sudah turun sampai paha, ternyata dia sudah tidak Pakai CD. Vaginanya terus dielus-elus oleh Akbar. dia menggelinjang dan mengerang-erang pelan sambil tangannya mencari-cari penis Akbar. Tangannya mencoba membuka celana jeans Akbar yang bagian depannya sudah menyesak menggumpal. Akbar menghentikan ciumannya dan turun dari ranjang. Di depan ibuku yang meraba-raba vagian dan payudaranya sendiri, Akbar membuka celana Jeansnya, meninggalkan CD putih yang penisnya sudah menyeruak keluar dan sedikit berlendir.

“Ayo, sayang” erang Ibuku pelan. Akbar berjalan dan naik lagi ke kasur, kali ini dia berlutut disamping ibuku dan membiarkan Ibuku mengeluarkan penisnya dan bermain dengannya. Pelan ibuku mengeluarkan penis dari CD dan mengelusnya pelan, lalu Akbar bergeser kedepan, persis di depan Ibuku. Lidah Ibuku pelan menjilati penis Akbar yang tegang, hitam kecoklatan. Lidahnya menjilati ujung penis Akbar seperti makan es krim, lalu pelan-pelan memasukkan penis Akbar ke mulutnya. Akbar mengerang dan meremas rambut Ibuku yang terurai.

Pelan-pelan akbar menggoyangkan pantatnya dan membuat penisnya keluar masuk di mulut Ibuku yang duduk tegak dengan kaki mengangkang diantara tubuh akbar yang berlutut dihadapannya. Kulihat Akbar dan Ibuku begitu menikmati permainan mereka dengan erangan dan sentuhan.
Aku yang sejak tadi ngintip sambil jongkok kini berlutut dan mengeluarkan penisku dari sarangnya sambil mengelus pelan terus melihat adegan didalam kamar. Lanjut baca!


Kisah Ngewe Cewek di Antara Jakarta dan Bandung 2

Kisah Ngewe Cewek di Antara Jakarta dan Bandung 2

 Tradingan.com - Perlahan, Merry membuka kancing depan celananya dan perlahan menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu dengan air mata meleleh di pipi Merry menarik turun celana dalamnya, sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Merry berusaha menutupi kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi Botak menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Merry menurunkan tangannya. Merry langsung menurunkan tangannya, dan sekarang Botak dan Hitam berjalan mengelilinginya mengagumi tubuhnya.

“Coba sekarang Non berlutut dan merangkak ke temen saya di sana!” perintah Botak, dan Merry menuruti perintahnya, ia merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam yang tinggi dan besar.

“Nah, sekarang coba Non, masukin punya teman saya itu ke mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo nanti di keluar, Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang kebuang. Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit. Kalo sampe kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!”

Merry kembali shock, ia belum pernah memasukkan penis ke dalam mulutnya. Perasaannya muak membayangkan memasukan penis ke dalam mulutnya, ia lebih ketakutan mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.

“Si, si, siap Tuan”, jawab Merry sambil meraih kancing celana Hitam.

“Tunggu”, tiba-tiba Hitam berkata, membuat Merry berhenti kebingungan.

“Minta ijin dulu dong Non!”.

Merry menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua orang itu. Ia takut sekali akan terus-menerus mengalami ini.

“Bo, bo, boleh saya jilat punya Tuan?”, Merry berusaha mengeluarkan suara ditengah isak tangsinya. Pipi Merry tampak berkilat-kilat basah oleh air mata.

“Yah, silakan deh”, jawab Hitam.

“Soalnya Non sopan sekali sih mintanya.” Jari-jari Merry gemetar berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah berhasil restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya. Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana tadi tidak bisa menahan apa yang ada di dalamnya. Celana dalam Hitam sudah turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam yang sudah tegang sekali. Di depan mata Merry, penis itu mengacung dengan panjang sekitar 25 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Penis itu tampak berkilau-kilau ditimpa cahaya api unggun. Kepala penis itu sendiri berdiameter sekitar 8 cm. Hitam tertawa melihat wajah Merry memucat melihat penisnya.

“Lho, Non, katanya mau..”, kata Hitam tidak sabar. Tidak tahu bagaimana memulainya, Merry memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan mulai menciuminya. Merry terus menciumi selama beberapa saat, kemudian ia mengeluarkan lidahnya lalu ia menjilati batang penis Hitam. Sambil menelan ludah, Merry sekarang membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Hitam sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Merry terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang asin di ujung penis Hitam. Merry berusaha melupakan apa yang baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya menempel disekeliling penis tuannya yang baru. Baca selengkapnya!


Kisah Ngentot Cewek di Antara Jakarta dan Bandung 1

Kisah Ngentot Cewek di Antara Jakarta dan Bandung 1

 Aopok.com - Laki-laki brengsek!, Merry mengumpat seraya menekan pedal gas Cielonya dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju Bandung, tapi pikirannya masih mengingat kejadian siang tadi ketika ia melihat Rendy, tunangannya sedang menyuapkan sesendok makanan ke seorang wanita di sebuah cafe. Ketika Merry mendekati mereka wajah Rendy langsung pucat dan tergagap-gagap ia menjelaskan yang diyakini oleh Merry tidak ada satupun yang bisa dipercaya.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk berakhir pekan ke Bandung. Melupakan kekesalan hatinya. Ia langsung berangkat sepulang kerja, setelah mengepak keperluan secukupnya untuk berakhir pekan, Merry langsung berangkat menuju rumahnya yang ada di pinggiran kota Bandung.

Setelah beberapa saat keluar dari pintu tol, dan hari sudah gelap, sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba mesin mobilnya berbunyi aneh. Dan tanpa disangka-sangka asap mengepul dari kap depan mobilnya menutupi dan mesin mobilnya langsung terbatuk-batuk dan berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, mobil itu berhasil dkemudikan ke pinggir jalan oleh Merry yang kebingungan dan panik melihat asap yang mengepul dari depan.

Merry masih berusaha untuk menyalakan lagi mesin mobilnya, tapi sia-sia. “Shit!” Merry keluar dari mobil dan menemukan dirinya ada di pinggir jalan yang gelap, sumber cahaya hanya dari bulan purnama yang sedang bersinar. Hampir tidak ada mobil yang lewat, sedangkan tidak ada tanda-tanda di sekitar situ ada rumah penduduk.

“Damn, gue musti nginep di mobil, sialan!”, Merry menendang ban mobilnya. Udara sekitar situ agak panas, untung Merry hanya mengenakan t-shirt dan celana pendek, sehingga panasnya udara tidak begitu mengganggunya. Sedangkan untuk makanan, ia sudah mempersiapkan bekal untuk selama di perjalanan, biarpun seadanya tapi cukup untuk mengganjal perut.

Tapi Merry masih tetap berharap akan ada mobil yang lewat yang bisa membawanya ke bengkel atau wartel sehingga ada yang bisa menjemputnya. Rupanya Merry tidak usah menunggu terlalu lama. Tak berapa lama terdengar suara deru kendaraan mendekat, lalu terlihat sepasang lampu, makin lama makin terang dan terlihat sebuah mobil box mendekati tempat Merry. Merry langsung berdiri di tepi jalan dan melambai-lambaikan kedua tangannya.

“Haaii! Tolong Saya!”. Box itu berhenti dan minggir dua orang keluar. Yang satu berbadan hitam dan besar serta berotot, sedangkan yang satu lagi botak, dengan badan kekar. Merry sempat ragu-ragu menghadapi kedua orang yang tampaknya kasar-kasar itu, tapi dirinya sangat membutuhkan tumpangan, dan ia berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

“Ada yang bisa saya bantu, Non?”, tanya Botak dengan sopan, sementara Hitam diam dan hanya tersenyum tipis.

“Mobil saya tau-tau keluar asepnya. Terus mesinnya mati nggak mau jalan lagi”.

“Sial banget ya Non”, jawab Botak sambil melirik kaki Merry yang panjang.

“Bener. Padahal saya musti sampe ke Bandung hari ini juga. Bapak-bapak bisa bantu saya?”.

“eeh, bisa Non, mungkin kepanasan atau ada yang bocor. Bisa pinjem kuncinya Non?”.

Merry merogoh saku celana pendeknya dan memberikan kunci Cielo-nya. Saking leganya ia tidak melihat Hitam dan Botak bertukar pandang dan menyeringai.

“Tunggu sebentar ya Non. Kita mesti periksa dulu mobilnya”, kata Botak sambil menerima kunci dari Merry. Merry memberikan senyumnya yang paling manis sebagai tanda terima kasih, dan ia lalu berjalan-jalan sekitar situ melemaskan kakinya yang kaku selama mengemudi.

“Waduuh!”, Botak berteriak ketika asap menyembur keluar dari kap yang ia buka.

Selama lima menit kemudian mereka berdua menunduk di mesin mobil Merry sambil berbisik-bisik. Sekali Merry bertemu pandang, dan Merry tersenyum. Mereka membalasnya, lalu kembali memandang satu sama lainnya. Beberapa saat Merry sedang melamun sambil memandang sebuah pohon di depannya ketika suara Botak dari belakangnya membuat ia terlompat kaget. Baca selengkapnya!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia